Puasa bagi ibu hamil dan menyusui

mudah2an bermanfaat bagi orang yang sekasus dengan saya (hamil dan menyusui)

F I D Y A H

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://www.almanhaj.or.id/content/1138/slash/0

[1]. Bagi Siapa Fidyah Itu ?
Bagi ibu hamil dan menyusui jika dikhawatirkan keadaan keduanya, maka
diperbolehkan berbuka dan memberi makan setiap harinya seorang miskin,
dalilnya adalah firman Allah.

“Artinya : Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa hendaknya
membayar fidyah, dengan memberi makan seorang miskin” [Al-Baqarah : 184]

Sisi pendalilannya, bahwasanya ayat ini adalah khusus bagi orang-orang
yang sudah tua renta (baik laki-laki maupun perempuan), orang yang
sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, ibu hamil dan menyusui,
jika dikhawatirkan keadaan keduanya, sebagaimana akan datang
penjelasannya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

[2]. Penjelasan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

Engkau telah mengetahui wahai saudaraku seiman, bahwasanya dalam
pembahasan yang lalu ayat ini mansukh berdasarkan dua hadits Abdullah
bin Umar dan Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahuma, tetapi ada riwayat
dari Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa ayat ini tidak mansukh dan ini
berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua dan bagi orang yang
tidak mampu berpuasa, maka hendaknya mereka memberi makan setiap hari
seorang miskin.[Hadits Riwayat Bukhari 8/135]

Oleh karena itu Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma dianggap menyelisihi
jumhur sahabat atau pendapatnya saling bertentangan, lebih khusus lagi
jika engkau mengetahui bahwasanya beliau menegaskan adanya mansukh.
Dalam riwayat lain (disebutkan).

“Diberi rukhsah bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua yang tidak
mampu berpuasa, hendaknya berbuka kalau mau, atau memberi makan
seorang miskin dan tidak ada qadha’, kemudian dimansukh oleh ayat.

“Artinya : Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu
(Ramadhan-ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” [Al-Baqarah :
185]

Telah shahih bagi kakek dan nenek yang sudah tua jika tidak mampu
berpuasa, ibu hamil dan menyusui yang khawatir keadaan keduanya untuk
berbuka, kemudian memberi makan setiap harinya seorang miskin. [Ibnu
Jarud 381, Al-Baihaqi 4/230, Abu Dawud 2318 sanadnya Shahih]

Sebagian orang ada yang melihat dhahir riwayat yang lalu, yaitu
riwayat Bukhari pada kitab Tafsir dalam Shahihnya yang menegaskan
tidak adanya naskh, hingga mereka menyangka Hibrul Ummat (Ibnu Abbas
Radhiyallahu ‘anhuma) menyelisihi jumhur, tetapi tatkala diberikan
riwayat yang menegaskan adanya naskh, mereka menyangka adanya saling
pertentangan !

[3]. Yang Benar Ayat Tersebut (Al-Baqarah : 185) Mansukh

Yang benar dan tidak diragukan lagi ayat tersebut adalah mansukh,
tetapi dalam pengertian orang-orang terdahulu, karena Salafus Shalih
Radhiyallahu a’alaihim menggunakan kata nask untuk menghilangkan
pemakaian dalil-dalil umum, mutlak dan dhahir dan selainnya, adapun
dengan mengkhususkan atau mengaitkan atau menunjukkan yang mutlak
kepada muqayyad, penafsirannya, penjelasannya sehingga mereka
menamakan istisna’ (pengecualian), syarat dan sifat sebagai naskh.
Karena padanya mengandung penghilangan makna dan dhahir maksud lafadz
tersebut. Naskh dalam bahasa arab menjelaskan maksud tanpa memakai
lafadz tersebut, bahkan (bisa juga) dengan sebab dari luar. [Lihat
I’lamul Muwaqi’in 1/35 karya Ibnu Qayyim dan Al-Muwafaqat 3/118 karya
As-Syatibi]

Sudah diketahui bahwa barangsiapa yang memperhatikan perkataan mereka
(orang arab) akan melihat banyak sekali contoh masalah tersebut,
sehingga akan hilanglah musykilat (problema) yang disebabkan
memaknakan perkataan Salafus Shalih dengan perngetian yang baru yang
mengandung penghilangan hukum syar’i terdahulu dengan dalil syar’i
muataakhirin yang dinisbatkan kepada mukallaf.

[4]. Ayat Tersebut Bersifat Umum

Yang menguatkan hal ini, ayat di atas adalah bersifat umum bagi
seluruh mukallaf yang mencakup orang yang bisa berpuasa atau tidak
bisa puasa. Penguat hal ini dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan
Imam Muslim dan Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu : “Kami pernah
pada bulan Ramadhan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
barangsiapa yang mau puasa maka puasalah, dan barangsiapa yang mau
berbuka maka berbukalah, tetapi harus berbuka dengan memberi fidyah
kepada seorang miskin, hingga turun ayat :

“Artinya : Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu
(Ramadhan-ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” [Al-Baqarah :
185]

Mungkin adanya masalah itu terjadi karena hadits Ibnu Abbas yang
menegaskan adanya nash bahwa rukhsah itu untuk laki-laki dan wanita
yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa, tetapi masalah ini
akan hilang jika jelas bagimu bahwa hadits tersebut hanya sebagai
dalil bukan membatasi orangnya, dalil untuk memahami hal ini terdapat
pada hadits itu sendiri. Jika rukhsah tersebut hanya untuk laki-laki
dan wanita yang sudah lanjut usia saja kemudian dihapus (dinaskh),
hingga tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia,
maka apa makna rukhsah yang ditetapkan dan yang dinafikan itu jika
penyebutan mereka bukan sebagai dalil ataupun pembatasan ?

Jika engkau telah merasa jelas dan yakin, serta berpendapat bahwa
makna ayat mansukh bagi orang yang mampu berpuasa, dan tidak mansukh
bagi yang tidak mampu berpuasa, hukum yang pertama mansukh dengan
dalil Al-Qur’an adapun hukum kedua dengan dalil dari sunnah dan tidak
akan dihapus sampai hari kiamat.

Yang menguatkan hal ini adalah pernyataan Ibnu Abbas dalam riwayat
yang menjelaskan adanya naskh : “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita
yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa, serta wanita yang
hamil dan menyusui jika khawatir keadaan keduanya, untuk berbuka dan
memberi makan orang miskin setiap harinya”.

Dan yang menambah jelas lagi hadits Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu
: “Adapun keadaan-keadaan puasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam datang ke Madinah menetapkan puasa selama tiga hari setiap
bulannya, dan puasa Asyura’ kemudian Allah mewajibkan puasa turunlah ayat.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman diwajbkan atas kalian berpuasa
….” [Al-Baqarah : 183]

Kemudian Allah menurunkan ayat.

“Artinya : Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan padanya Al-Qur’an
….” [Al-Baqarah : 185]

Allah menetapkan puasa bagi orang mukim yang sehat, dan memberi
rukhsah bagi orang yang sakit dan musafir dan menetapkan fidyah bagi
orang tua yang tidak mampu berpuasa, inilah keadaan keduanya ….”
[Hadits Riwayat Abu Dawud dalam Sunannya 507, Al-Baihaqi dalam
Sunannya 4/200, Ahmad dalam Musnad 5/246-247 dan sanadnya Shahih]

Dua hadits ini menjelaskan bahwa ayat ini mansukh bagi orang yang
mampu berpuasa, dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu
berpuasa, yakni ayat ini dikhususkan.

Oleh karena itu Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mencocoki sahabat,
haditsnya mencocoki dua hadits yang lainnya (yaitu) hadits Ibnu Umar
dan Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahu ‘anhum, dan juga tidak saling
bertentangan. Perkataannya tidak mansukh ditafsirkan oleh perkataannya
: itu mansukh, yakni ayat ini dikhususkan, dengan keterangan ini
jelaslah bahwa naskh dalam pemahaman sahabat berlawanan dengan
pengkhususan dan pembatasan di kalangan ahlus ushul mutaakhirin,
demikianlah diisyaratkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya.[Al-Jami’ li
Ahkamil Qur’an 2/288]

[5]. Hadits Ibnu Abbas dan Muadz Hanya Ijtihad ?

Mungkin engkau menyangka wahai saudara muslim hadits dari Ibnu Abbas
dan Muadz hanya semata ijtihad dan pengkhabaran hingga faedah bisa
naik ke tingkatan hadts marfu’ yang bisa mengkhususkan pengumuman
dalam Al-Qur’an dan membatasi yang mutlaknya, menafsirkan yang global,
dan jawabannya sebagai berikut.

[a]. Dua hadits ini memiliki hukum marfu’ menurut kesepakatan ahlul
ilmi tentang hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang
yang beriman mencintai Allah dan Rasul-Nya tidak boleh menyelisihi dua
hadits ini jika ia anggap shahih, karena dua hadits ini ada dalam
tafsir ketika menjelaskan asbabun nuzul, yakni dua shahabat ini
menyaksikan wahyu dan turunnya Al-Qur’an, mengabarkan ayat Al-Qur’an,
bahwa turunnya begini, maka ini adalah hadits musnad, [Lihat Tadribur
Rawi 1/192-193 karya Suyuhthi, ‘Ulumul Hadits hal.24 karya Ibnu Shalah]

[b]. Ibnu Abbas menetapkan hukum ini bagi wanita yang menyusui dan
hamil, dari mana beliau mengambil hukum ini ? Tidak diragukan lagi
beliau mengambil dari sunnah, terlebih lagi beliau tidak sendirian
tapi disepakati oleh Abdullah bin Umar yang meriwayatkan bahwa hadits
ini mansukh.

Dari Malik dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang seorang
wanita yang hamil jika mengkhawatirkan anaknya, beliau berkata :
“Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya
kepada seorang miskin” [Al-Baihaqi dalam As-Sunan 4/230 dari jalan
Imam Syafi’i, sanadnya Shahih]

Daruquthni meriwayatkan I/207 dari Ibnu Umar dan beliau
menshahihkannya, bahwa beliau (Ibnu Umar) berkata : “Seorang wanita
hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha”. Dari jalan lain
beliau meriwayatkan : Seorang wanita yang hamil bertanya kepada Ibnu
Umar, beliau menjawab : “Berbukalah, dan berilah makan orang miskin
setiap harinya dan tidak perlu mengqadha” sanadnya jayyid, dari jalan
yang ketiga : Anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy,
dan hamil. Dan dia kehausan ketika puasa Ramadhan, Ibnu Umar pun
menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin.

[c]. Tidak ada Shahabat yang menentang Ibnu Abbas Radhiyallahu
‘anhuma. [Sebagaimana dinashkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/21]

[6]. Wanita Hamil dan Menyusui Gugur Puasanya

Keterangan ini menjelaskan makna : “Allah menggugurkan kewajiban puasa
dari wanita hamil dan menyusui” yang terdapat dalam hadits Anas yang
lalu, yakni dibatasi “Kalau mengkhwatirkan diri dan anaknya” dia bayar
fidyah tidak mengqadha.

[7]. Musafir Gugur Puasanya dan Wajib Mengqadha’

Barangsiapa menyangka gugurnya puasa wanita hamil dan menyusui sama
dengan musafir sehingga mengharuskan qadha’, perkataan ini tertolak
karena Al-Qur’an menjelaskan makna gugurnya puasa dari musafir.

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah bagimu berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [Al-Baqarah : 184]

Dan Allah menjelaskan makna gugurnya puasa bagi yang tidak mampu
menjalankannya dalam firman-Nya.

“Artinya : Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka
tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin”
[Al-Baqarah : 184]

Maka jelaslah bagi kalian, bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk
orang yang tercakup dalam ayat ini, bahkan ayat ini adalah khusus
untuk mereka.

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul
Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]

sumber: keluargasahlan.multiply.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: